Hal Sederhana tentang Cinta

Untuk temanku yang sedang dilanda asmara, yang merasa kenapa sebuah perbedaan membuat cinta kalian tak bisa menyatu dalam sebuah prinsip yang dinamakan agama:

———————————————————————————–

Ketika pertama kali bertemu, aku tidak pernah tahu lanjutan dari kisah kita. Berawal dari ikatan teman atau profesional, semuanya terlihat biasa saja. Bahkan pertemuan kita bermula dari sebuah sms tengah malam tentang kekagumanmu terhadap tulisanku di sebuah web. Tapi semakin lama mengenal, semakin sering bertemu, semakin sering berbicara , dan kerap berargumentasi mulai dari hal sederhana hingga berat, semuanya terasa lebih menyenangkan. Bahkan suatu hari kamu berkata, “Ternyata asik juga ya kamu diajak ngobrol, asik jadi temen…”Aku merasa hubungan teman tidak perlu ada batasan dalam perbedaan apapun, kan?.

Awal-awal aku mengenalmu, kita bertemu setiap 2 minggu sekali. Bulan berikutnya intensitas pertemuan mencapai 4x dalam sebulan. Setiap bulan bertambah dan akhirnya sekarang kita bisa bertemu setiap hari. Lama-lama aku merasa addicted olehmu. Senyummu, rayuanmu, prinsipmu, keberanianmu, pedulimu terhadapku, pendapatmu, semuanya bisa membuatku terbius. Aku akan merasa ada yang hilang jika dalam sehari kau tidak mengirim sms padaku. Aku tahu hubungan kita tidak bisa disebut ‘teman biasa’ atau ‘teman dekat’. Tapi aku bingung tentang hubungan kita. Teman tidak, pacar juga tidak. Yang kita tahu, kita saling menyukai, saling mengagumi, dan semuanya terasa menyenangkan jika di dekatmu.

Sekarang sudah hampir lima bulan, kita tahu bahwa suatu saat hubungan kita akan berakhir. Entah dalam waktu dekat atau lama, suatu saat kita akan punya kehidupan masing-masing. Kau dengan kekasih barumu, dan aku…entahlah, apa aku bisa melupakanmu atau tidak. ?

Berulang kali aku katakan padamu untuk cari kekasih baru, kau selalu punya banyak alasan. Apa aku terlalu sempurna di matamu? Bukalah matamu dan lihat bahwa di luar sana banyak perempuan yang lebih indah, lebih cerdas, lebih menawan, tetapi kenapa harus aku?? Aku dan kamu berbeda. Jika perbedaan itu bukan tentang agama, aku pasti masih bisa berharap untuk akhir yang lebih bahagia. Setidaknya, kita tidak harus merasa berdosa pada keluarga ataupun pada Tuhanku dan Tuhanmu.

Untuk engkau yang merasa aku begitu sempurna, bisakah kau membenciku sehingga aku bisa melupakanmu? Bisakah aku mengharapkan perpisahan kita tidak terlalu menyakitkan? Aku dan kamu berbeda. Apapun yang kita lakukan, jalan kita tetap berbeda, walau kita berusaha menyatukan jalan pikiran, akhirnya agama yang akan membawa kita sadar tentang perbedaan itu.

Kita berjanji, biarlah api yang awalnya kita hidupkan bersama-sama akan mati dengan sendirinya. Biarkan tempat, waktu, dan keadaan yang nantinya memisahkan kita dengan manis. Semuanya tak ada yang abadi. Aku tukarkan waktuku selama beberapa bulan untuk bisa merasakan puitiknya kenangan bersamamu. Mama, Papa, aku berjanji tidak akan mengkhianati kalian yang melahirkanku. Tuhan, terima kasih telah memberiku kesempatan bersamanya. Aku tak akan menyalahkan apapun.

Kekasihku, mau atau tidak kita harus berpisah. Semoga engkau bisa melihat kesempurnaan yang ada pada gadis lain. Semoga dalam waktu singkat, Tuhan benar-benar memisahkan kita secara manis agar duka yang kita rasakan tidak terlalu menyakitkan. Amin..

————————————————————————

Aku yakin tidak hanya satu temanku yang pernah merasakan kisah ini. Ada banyak anggota dari kaum minoritas lainnya yang harus berat memutuskan antara cinta atau keluarga. Kisah ini tidak ada maksud menghakimi, atau menjelekkan apapun. Hanya sebatas kisah yang memang nyata ada di sekitar. Kadang cinta memang harus dewasa. Tidak selalu dirasa, tapi kadang harus dipikirkan. Karena cinta harus bertanggung jawab, bukan hanya pelampiasan kehendak semata.

Selamat berjuang temanku, aku tahu kalau kamu cukup dewasa untuk mengambil keputusan sulit ini ?

• Aku = bukan aku yang sebenarnya
• Kamu = bukan kamu yang sebenarnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: