Mahasiswa Perlu Soft Skills

Wednesday, 21 October 2009

HARD skills di era globalisasi ini bukan lagi penentu keberhasilan. Mahasiswa pun harus dibekali dengan materi soft skillsuntuk menjawab tantangan dunia kerja.

Globalisasi dan arus informasi yang pesat berimbas kepada pembangunan di seluruh dunia.Untuk dapat terus mengikuti perubahan dan tantangan zaman,manusia senantiasa berupaya meningkatkan potensi dirinya agar menjadi manusia bersumber daya berkualitas. Namun mencermati kondisi kualitas SDM Indonesia, sangat mengkhawatirkan. Bukan hanya berada dalam taraf rendah, kualitas SDM ini juga mengalami penurunan.

Lihat saja laporan terbaru World Competitiveness Yearbook tahun 2009 tentang daya saing. Indonesia menempati peringkat ke- 42. Angka ini sebenarnya meningkat dibanding tahun sebelumnya yang membuat Indonesia berada di posisi 51. Meski demikian, peringkat daya saing Indonesia tersebut masih tertinggal dibanding negara Asia Tenggara lain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Singapura menempati posisi ketiga, sedangkan Malaysia berada di peringkat ke-18, dan urutan 26 ditempati oleh Thailand. Begitu lulus, mahasiswa akan memasuki persaingan di dunia kerja yang sangat ketat.Namun, di dunia kerja para stakeholders atau perusahaan yang menyerap tenaga kerja para lulusan sarjana ini malah sering kali melemparkan keluhan.

Lagi-lagi karena kualitas lulusan perguruan tinggi yang tidak memuaskan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Direktur Akademik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas Illah Sailah, para lulusan perguruan tinggi cenderung memiliki karakter cepat bosan, bermental lemah, tidak dapat membina kerja sama, serta tidak memiliki integritas.

“Banyak sarjana yang tidak tahan menghadapi dunia kerja. Maksudnya,jika mereka sudah menandatangani kontrak dua tahun, baru enam bulan sudah bosan.Tidak sedikit yang mundur tanpa pemberitahuan kepada perusahaan,” kata Illah yang juga dosen senior IPB ini. Tampaknya apa yang diberikan di bangku kuliah tidak lagi sesuai dengan apa yang dibutuhkan di lapangan kerja sekarang ini.

Sebagian besar menu yang disajikan di perkuliahan boleh dibilang berupa keterampilan keras.Padahal, penentu kesuksesan justru terletak pada keahlian yang tergolong lunak atau soft skills. Terlebih lagi jika melihat kondisi masa kini, stakeholders bukan hanya menuntut para lulusan untuk memiliki kemampuan akademik yang tinggi,namun juga diharapkan mempunyai kepandaian di bidang soft skillstersebut.

Keahlian lunak ini di antaranya motivasi tinggi, kemampuan beradaptasi dengan perubahan, kompetensi interpersonal, dan orientasi nilai yang menunjukkan kinerja yang efektif. Fenomena ini sesuai dengan hasil penelitian National Association of Colleges and Employers (NACE) yang menyebutkan bahwa pada umumnya pengguna tenaga kerja membutuhkan keahlian kerja berupa 82% soft skills dan selebihnya 18% hard skills.

Hal tersebut bukan isapan jempol belaka. Dalam buku Lesson From The Topkarya Neff dan Citrin, tersibak bahwa sebanyak 50 orang CEO dari berbagai perusahaan,dekan, dan rektor pendidikan tinggi, menyebut pentingnya memiliki keterampilan lunak sebagai syarat sukses di dunia kerja. Beberapa orang CEO tersebut di antaranya Jack Welch (General Electric), Bill Gates (Microsoft), Andy Grove (Intel),dan Michael Dell (Dell).

Soft skills yang berperan penting dalam kesuksesan itu seperti gairah, kemampuan berkomunikasi, kesehatan dan energi tinggi, kecerdasan spiritual, kreatif, bersikap positif,dan fokus,di samping tentunya unsur intellegence quotient (IQ) yang tak kalah berperan. “Maka keberadaan materi soft skills di perguruan tinggi harus diadakan.

Antaralaindenganmem berikan bobot yang lebih kepada pengembangan keahlian lunak ini,” kata Drs Bedjo Santoso MT selaku staf ahli Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula),Semarang . Lebih jauh Bedjo mengatakan, peningkatan kompetensi lulusan berbasis soft skills sangat mendesak. Guna memenuhi kebutuhan para stakeholders dengan orientasi produktivitas tinggi.

“Juga untuk mewarnai dunia kerja ke arah perbaikan karakter bangsa,”beber Bedjo. Hal senada juga diutarakan oleh Pembantu Dekan III Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Suharno MSi.Menurut dia,pelatihan soft skills memiliki derajat prioritas yang sama dengan hard skills.“Dengan penguasaan keduanya yang sama baik, mahasiswa akan memiliki keunggulan komparatif, baik ketika mereka masih menjadi mahasiswa maupun ketika terjun ke tengah masyarakat atau dunia kerja,”kata Suharno.

Penyelenggaraan soft skills di kalangan perguruan tinggi juga disambut positif oleh Dikti. Direktorat Kelembagaan Dikti memberikan dana hibah bagi pengembangan soft skills mahasiswa di masing- masing universitas. Program yang dirintis mulai tahun 2007 ini, mulanya mengalokasikan dana untuk 15 proposal di tahun tersebut.

Di luar dugaan, proposal yang diajarkan pihak perguruan tinggi malah mencapai 194 buah. Dikti lantas mengupayakan agar alokasi dana dapat ditambah, akhirnya sebanyak 20 proposal yang dibiayai kegiatannya. Mengacu pada pengalaman tahun 2007, maka pada 2008 Direktorat Kelembagaan Dikti menambah alokasi untuk 49 proposal.

Sayangnya, hanya sebanyak 30 proposal yang layak disetujui. Sedangkan tahun ini,Dikti hanya memberikan dana untuk 20 proposal saja. “Pengurangan ini dikarenakan Dikti ingin agar pihak universitas dapat mandiri membiayai keperluan pelatihan soft skills tersebut.

Jika memang sangat berguna,maka kami mengharapkan agar universitas mengalokasikan dana sendiri untuk kepentingan tersebut,” kata Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti Ir Hendarman MSc PhD. (sri noviarni)

Aam Muharam Wirakusumah

sumber :http://www. seputar-indonesi a.com/edisicetak /content/ view/278530/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: