:make the miracle:

DI NEGERI ASING 1.

Sudah lama aku tidak mengurat biru air mataku sendiri.

Bergerak tak berkata tanpa nada.

Pilu di samping kegelisahan.

Berarak pelan keriangan di kejauhan.

Semenjak aku terdiam disini, ada sehela nafas yang tertinggal disana.

Entah, kapan aku kembali ke tempat itu.

“Sudah jauh, tak mungkin lagi” kata perempuan yang berdiri di tikungan jalan itu.

Inginnya berbalik dan berlari hingga tak satupun yang dapat berteriak kepadaku.

Samar-samar ibu memanggil-manggil namaku.

Kukatakan kalau kursi ini tidak nyaman. Sama sekali tidak empuk untuk kududuki.

Tapi anak-anak kecil itu berebutan tempat duduk.

Bibir pucat nenek tua bergumam perlahan padaku, “Sudah terlanjur. “

Aku cukup lelah untuk berdiri di sampingmu tanpa sedikitpun ada kata.

Biarkan aku melewati ini demi bibir pucat nenekku, air mata ibuku, dan anak kecil yang berebut tempat duduk.

Ibu, bolehkah aku merenungi nasibku kali ini?

Kata ibu, itu tidak baik…

Seandainya hari ini aku tidak menjadi orang bodoh.

Kata ayah, aku payah.

Baru segitu saja sudah menangis.

Dimana bisa kutemukan diriku yang berani.

Seperti pahlawan di medan perang, seperti bajak laut yang tak kenal ombak,

Atau seorang anak yang tak pantang  maju ke depan kelas dengan semangat.

Ibu, seandainya di tempat ini aku tidak merasa sendiri,

Mungkin saja aku tidak menjadi melankoli seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: